Satu Suara Bersama Pemerintah, Stop Pencemaran Sampah Plastik Di Laut

0
67

Kobarpapua.com, Bali –   Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) tahun ini semakin diperluas di lebih dari 100 lokasi di Bali dari 55 lokasi di 2017, dengan mengajak lebih kurang 25.000 orang partisipan dibandingkan 12,000 partisipan di 2017. Kampanye kali ini tidak hanya berpusat di Bali, namun juga mengajak partisipasi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia untuk bersama-sama melakukan kegiatan bersih-bersih yang dilakukan mulai dari darat, pinggiran sungai, hingga sepanjang pesisir pantai di wilayah tempat tinggal mereka masing-masing.

Sebagai upaya untuk mewujudkan Indonesia bersih dan bebas sampah pada tahun 2025, maka Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) kembali menyelenggarakan gerakan sosialisasi dan edukasi yang membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, terutama dalam memerangi pencemaran sampah plastik di laut. Aksi yang dilangsungkan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ini dilaksanakan pada 24 Februari 2018, dengan Bali kembali menjadi tuan rumah kampanye tersebut.

Berdasarkan data Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahwa 9,85 milyar lembar sampah kantong plastik dihasilkan setiap tahun dan mencemari lingkungan selama lebih dari 400 tahun. Hanya 5% sampah kantong plastik yang bisa didaur ulang dan sisanya menguasai hampir 50% lahan TPA dan membutuhkan lebih dari 100 tahun agar bisa terurai. Sampah laut adalah masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia sebagai negara kedua terbesar di dunia yang berkontribusi pada sampah yang masuk ke laut.

Dalam konferensi Pers “SAY NO TO PLASTIC BAGS: Kampanye Satu Pulau Satu Suara, Bersama Pemerintah STOP Pencemaran Plastik di Laut”, di Bali pada Sabtu (24/02) dihadiri oleh Melati Wijsen, Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice);* Suzy Hutomo, Aktivis Lingkungan Founder SustainableSuzy.com dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia; Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA., Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Kemaritiman); Dr. Ir. Haruki Agustina, MSc., Kasubsit sampah spesifik dan daur ulang, Direktorat pengelolaan sampah, Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); Erik Armundito, S.T., M.T, PhD., Direktorat Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); Hamish Daud, Selebriti dan Pengamat Lingkungan; I Made Gunarta, Baga Palemahan (Komite Departemen Lingkungan Desa) Pakraman Padangtegal Ubud; I Ketut Mertaadi Co-founder and owner EcoBali; dan Eka Rock, Musisi (Superman Is Dead).

“Kampanye Satu Pulau Satu Suara ingin melakukan sesuatu yang lebih dari hanya meningkatkan kesadaran mengenai masalah sampah plastik tetapi kami juga ingin memberikan contoh bahwa organisasi, dunia usaha, desa dan individu menciptakan solusi masing-masing untuk mengurangi sampah plastic sehingga yang lain bisa melakukan hal yang sama”, tutur Melati Wijsen, Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice). Melati optimis bahwa kedepannya Bali dapat menyusul keberhasilan Banjarmasin yang telah memiliki kebijakan larangan penggunanaan kantong plastik. Hal ini sangat mungkin diikuti pemerintah daerah khususnya di Bali karena dari segi teknologi dan masyarakat sudah siap menyukseskan agar Bali bebas sampah plastik.

Aksi kampanye yang berawal dari mengisi petisi online hingga sampai dengan adanya Memorandum of Understanding (MOU) yang telah ditandangani oleh Gubernur Bali. MOU ini bertujuannya untuk menjadikan Bali bebas dari kantong plastik. Kemudian pada Tahun 2015, Bapak Mangku Pastika menandatangani surat edaran untuk membuat Bali bebas sampah plastik di tahun 2018, sayangnya memasuki awal tahun 2018 justru Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung mendeklarasikan keadaan darurat sampah di sepanjang enam kilometer garis pantai yang mencakup pantai populer di Bali seperti Jimbaran, Kuta, dan Seminyak.

Suzy Hutomo, Aktivis Lingkungan Founder SustainableSuzy.com mengatakan sudah seharusnya masyarakat mulai mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah dan besahabat dengan Bumi. Permasalahan sampah plastik di laut ini perlu diatasi dengan adanya kebijakan pengelolaan sampah khususnya pengurangan sampah dari darat. Suzy menjelaskan bahwa 80% plastik di laut itu berasal dari kegiatan di darat. Suzy Hutomo mendirikan sustainablesuzy sebagai platform atau wadah yang berkaitan dengan pencapaian gaya hidup ramah lingkungan ‘eco’ dan berkelanjutan.

Menurut Suzy, memakai sedotan dan alat makan yang bisa dipakai berulang bisa menekan banyak penggunaan plastik sekali pakai. SustainableSuzy.com coba menyediakan alternatif dengan sediakan sedotan yang terbuat dari gelas, besi atau bambu dan segera produk alat makan kayu.

Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA. Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim* menambahkan “Kami sangat mengapresiasi aksi kampanye Satu Pulau Satu Suara. Bali akan diusulkan sebagai pelopor wilayah bebas sampah plastik, maka tugas pemerintah daerah adalah menyiapkan kebijakan terkait penanggulangan sampah dan juga menggandeng komunitas – komunitas yang memiliki komitmen Bersama agar Bali Bebas Sampah Plastik.”

Dr. Ir. Haruki Agustina, MSc., Kasubsit sampah spesifik dan daur ulang, Direktorat pengelolaan sampah, Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengapresiasi semangat kampanye Satu Pulau Satu Suara, dengan melakukan aksi bersih-bersih pulau yang diselenggarakan di Bali. Aksi ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018. Dengan slogan KLHK, ‘Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah‘ beserta tagline BersihBisaKok, HPSN 2018 menjadi momentum nasional, bahwa dalam pengelolaan sampah nasional khususnya sampah plastik diperlukan collaborative action dari berbagai pihak, seperti gabungan komonitas dan masyarakat. “Untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan, saat ini mulailah menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dari diri kita sendiri“, ucap Haruki. KLHK berharap momentum seperti ini, dapat mengangkat permasalahan lingkungan yang belum terselesaikan, dan secara langsung meningkatkan kembali kesadaran dan kontribusi semua pihak dalam menanggulangi permasalahan sampah.

Haruki menambahkan, setiap pemerintah daerah memiliki peraturan dan kebijakan sendiri dalam penanggulangan sampah, yang mencakup pengelolaan sampah, pengurangan dan penanganan sampah, dimana hal ini harus dilakukan secara berkelanjutan.“Dalam penanganan sampah plastik, pemerintah Bali akan sangat terbantu dengan adanya kampanye Satu Pulau Satu Suara . Pemerintah daerah memiliki otoritas dan keleluasaan dalam mengeluarkan kebijakan – kebijakan yang efektif mengatasi permasalahan sampah plastik, sehingga nantinya Bali dapat menjadi pelopor kota yang bebas dari permasalahan sampah khususnya persoalan sampah plastik di laut,” kata Haruki.

Erik Armundito, S.T., M.T, PhD, Direktorat Lingkungan Hidup Bappenas, mengatakan, mendukung kampanye Satu Pulau Satu Suara yang memiliki semangat yang sama dengan pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah. Sebagai informasi, target pelayanan dan pengelolaan sampah yang akan dicapai dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah sebesar 100%, yang mencakup pengurangan sampah, penanganan sampah, dan pengomposan. Bappenas juga terus mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk memprioritaskan alokasi anggaran di sektor pengelolaan sampah plastik.

I Made Gunarta, Baga Palemahan (Komite Departemen Lingkungan Desa), Desa Pakraman Padangtegal Ubud, mengatakan, pentingnya pengelolaan sampah dilakukan dengan cara 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Made menjelaskan, sampah harus dikelola mulai dari tingkat desa, dan peraturan-peraturan adat desa terkait pengelolaan sampah perlu diterapkan. Selain peraturan adat, Made menambahkan, pendekatan edukasi lingkungan menjadi kunci keberhasilan. Ia juga mengimbau untuk membatasi pemasok plastik dan bahan yang kurang ramah lingkungan.

I Ketut Mertaadi, Co-founder and Owner EcoBali, mengungkapkan, pengelolaan limbah melalui pendekatan edukasi sangat penting. Selain pendekatan edukasi, Ketut menambahkan sektor sarana dan prasarana pengelolaan limbah juga harus mendukung. “Pemisahan sampah sesuai jenisnya adalah salah satu kunci keberhasilan pengelolaan limbah,” ujar Ketut. Lanjutnya, Ia mengimbau, untuk mengurangi pemakaian kantong plastik dengan mulai melakukan kampanye lokal dan Nasional yaitu Bring Your Own Bag/Bawa Tasmu Sendiri’. Komitment bersama sangat penting. Pemerintah, masyarakat dan juga pelaku bisnis, harus bahu-membahu untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan lestari.

Hamish Daud, Selebriti dan Pemerhati Lingkungan mengatakan sebagai masyarakat yang tumbuh besar di Bali, Laut seakan menjadi rumah kedua. Kedekatannya dengan laut yang membuat ia menyadari bahwa kondisi laut semakin hari semakin memburuk. Salah satu penyebabnya adalah sampah plastik. Kondisi ini membuat miris pria yang lahir di Gosford, Australia. Hal ini tentunya sangat merusak keindahan panorama laut dan perlahan mengurangi devisa negara dari sektor pariwisata. Bagi Hamish langkah sederhana yang ia lakukan mengurangi sampah plastik adalah dengan membawa botol isi ulang kemanapun ia berpergian dan tidak lagi minum menggunakan sedotan plastik. “Pemakaian sedotan plastik sekarang telah menjadi lifestyle. Semenjak melihat dokumentasi dari pemakaian sedotan plastic yang berimbas buruk bagi lingkungan dan species laut, maka saya tidak pernah lagi memakai sedotan, apalagi jika sedang traveling. Tidak menjadi masalah tanpa sedotan, cobalah jadi kreatif dari pada menggunakan sampah plasik,” kata Hamish.

Eka Rock, Musisi (Superman Is Dead) dan Pemerhati Lingkungan mengatakan “Pulau Bali sudah memberikan kita banyak hidup, kesenangan, dan sebagainya Menurut Eka, keberadaan, keindahan, kebersihan dan kelangsungan hidup Bali, adalah tanggung jawab bersama, terutama dalam menangani permasalahan sampah. “Jika bukan kita lalu siapa lagi. Responsible to care,” kata Eka.

The Body Shop Indonesia mendukung kampanye positif Satu Pulau Satu Suara. Kampanye ini seirama dengan komitmen The Body Shop® yang sejak tahun 2008 concern dalam permasalahan sampah khususnya kemasan sampah plastik yang mereka hasilkan. Back Our Bottle (BBOB) merupakan gagasan untuk mengelola sampah kemasan dari The Body Shop®. Program ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun. Melalui program tersebut, The Body Shop® mengajak pelanggan untuk mengembalikan kemasan kosongnya ke toko-toko The Body Shop® dan nmereka pun mendapatkan reward. Berdasarkan data selama tahun 2017, sekitar 1,2 juta kemasan kosong The Body Shop® dikembalikan oleh pelanggan.

Protect the Planet” adalah pedoman The Body Shop® untuk melindungi planet Bumi dari ancaman kerusakan lingkungan. Kesadaran The Body Shop® terhadap sampah plastik sudah dilakukan sejak awal perusahaan ini berdiri. Dalam kampanye ini, The Body Shop® mengambil peranan untuk menginspirasi perusahaan lain bahwa perusahaan dapat ikut serta berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik dengan menerapkan konsep ‘ethical and responsible business’. (RED/KP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.