Referendum : 92% Kurdi Pilih Merdeka dari Irak

0
177
A man waves the Kurdish flag in the streets of Irbil after polling stations closed on Monday, Sept. 25, 2017. The Kurds of Iraq were voting in a referendum on support for independence that has stirred fears of instability across the region, as the war against the Islamic State group winds down. (AP Photo/Bram Janssen)

IRBIL – Sejumlah 92% suku Kurdi Irak telah memilih untuk menjadi negara merdeka daripada bersama Irak. Hal itu dinyatakan Komisi Pemilihan Tinggi dan Referendum pada Rabu (27/9), sesuai hasil pemungutan suara referendum yang telah membuat marah pemerintah Baghdad dan kekuatan regional Turki dan Iran.

Menyikapi hasil referendum, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi menegaskan tidak akan bernegosiasi apapun dengan pemerintah regional Kurdi berdasarkan hasil referendum ilegal tersebut.  Hal itu ditegaskan Al Abadi di hadapan parlemen.

Sebelumnya, Al-Abadi juga mengatakan  para pemimpin Kurdi telah melakukan “kesalahan strategis dan bersejarah” dengan mengadakan referendum.

Kantor berita Al Jazeera, memperkirakan 78 % dari sekitar 5,2 juta pemilih akan memberikan hak suara. Suku Kurdi merupakan kelompok etnis terbesar keempat di Timur Tengah, tapi mereka tidak memiliki negara permanen.

Di Irak, jumlah warga Kurdi bahkan mencapai 15% hingga 20% dari populasi penduduk yang mencapai 37 juta. Selama beberapa dekade, Kurdi mengalami represi sebelum mendapat otonomi pada tahun 1991.

Diperkirakan, ada sekitar 30 juta warga suku Kurdi yang tinggal di empat negara kawasan Timur Tengah. Populasi suku Kurdi setidaknya menyebar di Irak, Iran, Turki, dan Suriah.

Pada Selasa (26/9), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga  terus melontarkan kritiknya terhadap referendum Kurdi. Dia menuduh kepala Pemerintah Daerah Kurdistan Massoud Barzani sebagai pengkhianat. Presiden menyebut referendum itu sebagai pengkhianatan terhadap Turki dan mengancam untuk memberlakukan blokade yang mencekik wilayah Kurdi di Irak utara.

Komentar Erdogan itu merupakan pernyataan yang terbaru dalam serangkaian peringatan dari pejabat Turki dan pemimpin regional lainnya. Namun referendum dinilai banyak orang Kurdi Irak dianggap sebagai langkah penting menuju impian penentuan nasib sendiri  yang telah lama ditangguhkan.

“Ini akan berakhir saat kami menutup keran minyak, semua pendapatan mereka akan lenyap, dan mereka tidak akan dapat menemukan makanan saat truk kami pergi ke Irak utara,” ancam Erdogan.

Menurut pejabat Kurdi, perdagangan lintas batas antara wilayah Kurdistan dan Turki mencapai nilai sekitar US$ 5 miliar pada enam bulan pertama tahun 2017. Sementara itu,  ratusan ribu barel minyak mengalir setiap hari melalui pipa dari wilayah ladang minyak yang dikuasai Kurdi ke Mediterania melalui wilayah Turki. [Reuters/WP/Al Jazeera/BBC/U-5]

Sumber : Suara Pembaruan / http://sp.beritasatu.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.