International Conference of Biodiversity, Ecotourism & Creative Economy (ICBE) 2018

0
190
“International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy (ICBE) in Tanah Papua 2018” sumber Photo : http://raynardsanito.com

“Suatu Warisan Tak Ternilai Bagi Generasi Masa Depan, Dimana Alam Dan Lingkungan Akan Tetap Terjaga”

Kobarpapua.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama Mitra Pembangunan di Tanah Papua akan melaksanakan Konferensi Internasional pada bulan Oktober yang bertajuk “International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy (ICBE) in Tanah Papua 2018”.

Berangkat dari tindak lanjut rekomendasi dari hasil konferensi ICBE sebelumnya yang dilaksanakan di Jayapura, Provinsi Papua tahun 2016, maka sangatlah penting untuk menyelenggarakan pertemuan ICBE 2018 yang mengemukakan prioritas pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua Barat, khususnya dan Tanah Papua umumnya.

Diharapkan keputusan pembangunan di Papua Barat, berkontribusi bagi kepentingan nasional Indonesia dan secara global untuk menjaga bumi. Hal tersebut diungkapkan pada Press Briefing bertajuk ICBE 2018 “Suatu Warisan Tak Ternilai Bagi Generasi Masa Depan, Dimana Alam Dan Lingkungan Akan Tetap Terjaga” di Jakarta, Senin (30/04) oleh Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan dan Ketua Tim Kerja ICBE 2018 , Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, ICBE 2018.

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan menyatakan bahwa “ICBE 2018 adalah sebuah terobosan yang dapat menghubungkan semua capaian misi pembangunan Provinsi Papua Barat di dalam kerangka inisiatif Provinsi Konservasi dalam rangka pembangunan berkelanjutan.

Suksesnya perhelatan ICBE ini juga menjadi tolak ukur sejauh mana Papua Barat mengikuti perkembangan dan mengalami kemajuan di dalam pembangunan, serta berkontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan baik di Tanah Papua, Indonesia dan global” ujar Dominggus.

Ilustrasi Hutan Papua Barat

Ketua Tim Kerja ICBE 2018 , Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS mengungkapkan  ICBE 2018 memiliki arti strategis tidak hanya bagi Papua Barat, tapi juga Tanah Papua, Indonesia dan dunia, karena dengan penyelenggaraan ICBE akan menghasilkan suatu warisan tak ternilai bagi generasi masa depan, dimana alam dan lingkungan akan tetap terjaga sebagaimana kondisinya saat ini.

Hal ini tentunya dengan pencapaian dalam peninjauan kembali RTRW Provinsi Papua Barat yang mengakomodir ciri khas Provinsi Konservasi dan ruang kelola masyarakat adat, pencadangan yang lebih besar terhadap kawasan lindung, peluang insentif fiskal dan skema pendanaan berkelanjutan, serta inisiatif kemitraan global dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pelaksanaan ICBE 2018 di Tanah Papua memiliki manfaat untuk mendorong pemahaman pentingnya pembangunan berkelanjutan dan kegiatan pelestarian keanekaragaram hayati, pemanfaatan jasa lingkungan dan ekonomi kreatif berbasis keanekaragaman hayati dan budaya.

Membangun komitmen bersama untuk memberikan tempat dan peran sentral masyarakat lokal dalam pelestarian alam, pemanfaatan sumber daya alam. Sarana untuk meningkatkan kerjasama/koordinasi berbagai pemangku kepentingan baik pada dalam provinsi, antar provinsi, nasional dan masyarakat global. Memperkuat dan memperbaiki rencana maupun pelaksanaan Provinsi Konservasi lewat kerjasama berbagai pemangku kepentingan.

Tersedianya data dasar (database) serta mendorong pembangunan pembangunan museum sejarah alam Tanah Papua (Papua Natural Museum) di Manokwari. ICBE 2018 merupakan konferensi internasional yang bertujuan untuk menselaraskan kegiatan pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

ICBE 2018 juga merupakan usaha untuk memberikan peran dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Papua dalam kegiatan pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam di Tanah Papua. ICBE 2018 adalah merupakan kegiatan terobosan dari pelaksanaan Agenda 2030 Pembangunan Berkelanjutan (Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development) oleh Perserikatan Bangsa-bangsa yang berisi 17 tujuan (goals) dan 169 sasaran (targets), dimana keanekargaman hayati mendapat perhatian serius terutama pada tujuan 14 dan 15.

Sebagai bagian dari masyarakat global yang telah bersamasama berkomitmen untuk mengelola dan melestarikan keanekaragaman hayati demi kesejahteraan umat manusia. Tanah Papua yang merupakan pulau terbesar di Indonesia, secara administratif terbagi ke dalam dua Pemerintahan Provinsi, yaitu Provinsi Papua dengan luasan 319.036 km2 dan Provinsi Papua Barat dengan luasan wilayah 140.376 km2.

Tanah yang dikenal juga sebagai pulau terbesar kedua di dunia ini diberkahi kekayaan alam dan keanekaragaman ekosistem yang luar biasa melimpah, diantaranya hutan, pantai, terumbu karang, danau dan sungai, serta gletser tropis. Keanekaragaman hayati Tanah Papua adalah setengah dari total jumlah keanekaragaman hayati Indonesia, secara khusus flora dan fauna endemik yang hanya dijumpai di Tanah ini.

Tidak hanya itu, Tanah Papua juga kaya akan sumberdaya alam berupa bahan tambang miberagaman gas dan mineral serta budaya adat istiadatnya, tercatat sekitar 265 bahasa lokal yang melambangkan kesuku-suku yang ada dengan kearifan lokalnya.

Kenyataan menunjukan bahwa Tanah Papua yang begitu kaya, namun tingkat kemiskinan di Tanah Papua termasuk yang tertinggi di Indonesia.

Pengembangan ekonomi di Tanah Papua sedang dan terus akan dipacu untuk meningkatkan perekonomian dan membiayai kegiatan pembangunan dengan harapan bahwa lewat kegiatan ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan harapan hidup masyarakat di Tanah Papua Terbatasnya atau belum berkembangnya sektor jasa dan sektor lainnya, mendorong pemerintah memanfaatkan sumberdaya alam sebagai modal utama pengembangan ekonomi.

Setiap usaha peningkatan perekonomian yang memanfaatkan sumberdaya alam harus berdasarkan asas berkelanjutan untuk menghindari kerusakan dan pencemaran lingkungan di Tanah Papua. Untuk itu diperlukan suatu usaha bersama dan menyeluruh untuk menentukan berbagai rencana untuk mewujudkan Tanah Papua menjadi Aman, Sejahtera dan Bermartabat yang dapat memberikan perlindungan bagi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan secara bijaksana sumberdaya alam.

ICBE 2018 di Tanah Papua merupakan kerjasama Pemerintah Papua Barat dengan Pemerintah Pusat dan Mitra Pembangunan di Tanah Papua. ICBE dilaksanakan dalam bentuk Seminar Ilmiah maupun penyampaian poster, eksebisi (pameran) dan festival budaya serta kuliner menu makanan asli Papua.

ICBE akan dilaksanakan pada tanggal 7 – 10 Oktober 2018 di Manokwari, Papua Barat. Peserta Konferensi Internasional diharapkan berjumlah 750 orang dari Indonesia dan manca negara (Amerika Serikat, Norwegia, Swedia, Denmark, New Zealand, Belanda, Inggris, Brazil, Spanyol, Australia, Jepang, China, Korea, dan Papua Nugini).

Pembicara Utama (Keynote Speakers) dan nara sumber berdasarkan dari pejabat pemerintah pusat dan pemerintah daerah, peneliti/ahli dan lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat, praktisi, serta masyarakat adat dan gereja. (RED/KP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini