Indonesia mendorong Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon pertama di COP23

0
189
Menteri Bappenas di COP23

Rencana pembangunan lima tahun Indonesia akan berfungsi sebagai Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon Pertama. Para Menteri Indonesia dan penasihat internasional utama mendorong pembiayaan pembangunan rendah karbon di COP23.

Kobarpapua.com, Bonn (Jerman) – Menteri BAPPENAS dan penasehat-penasehat kunci utama internasional mengadakan pertemuan, Kamis (16/11) di Bonn – Jerman, dalam rangka memajukan usaha di mana rencana pembangunan lima tahun Indonesia akan juga menjadi Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon pertama. Dengan populasi terbesar keempat dan berada di antara sepuluh negara dengan emisi tertinggi di dunia, masa depan ekonomi rendah karbon di Indonesia mencerminkan kualitas hidup yang lebih baik bagi jutaan masyarakat serta kontribusi yang signifikan terhadap upaya global untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celsius, target yang disepakati dalam Perjanjian Paris.

Dipimpin oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dengan dukungan dari instansi pemerintah lainnya, upaya menuju pembangunan rendah karbon akan mencakup analisis serta penelitian dan rekomendasi, dengan fokus khusus pada sektor energi dan tata guna lahan yang berkontribusi pada sekitar 80% dari emisi gas rumah kaca Indonesia.

“Pemerintah Indonesia memahami bahwa Indonesia tidak dapat mencapai pertumbuhan ekonomi dan manfaat pembangunan yang berkelanjutan tanpa mempertimbangkan dampak dari perubahan iklim,” ujar Profesor Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS. “Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon ini akan menjadi sebuah kendaraan yang membawa seluruh masyarakat Indonesia ke masa depan yang lebih baik dan sejahtera.”

“Rencana pembangunan yang dibuat berbagai negara saat ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan, tetapi juga memainkan peran besar dalam mewujudkan kesehatan, kemakmuran, dan ketahanan iklim bagi masyarakat di masa depan. Indonesia adalah sebuah contoh bagaimana negara-negara dapat mengintegrasikan agenda pembangunan dan iklim,” tambah Lord Nicholas Stern, Profesor Ekonomi dan Pemerintahan IG Patel di LSE dan Co-Chair Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim.

Para perwakilan dari Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim, bersama dengan para pemimpin lain dari kalangan bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil, akan bertukar pikiran mengenai berbagai skema nasional dan internasional untuk mendukung pembiayaan Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia. (RED/KP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.