Delapan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Siap Berantas Buta Aksara

0
272
Drs. Thomas Gewab, M.MPd, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw/Insert Photo : Laurent R

Sausapor, (Tambrauw), Kobarpapua.com – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw, Drs. Thomas Gewab, M.MPd mengapresiasi delapan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Tambrauw. PKBM ini bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw serta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan menyelenggarakan pendidikan keaksaraan dasar 2017 di seluruh kampung kabupaten Tambrauw.

Kepala Dinas Pendidikan mengajak seluruh masyarakat Tambrauw untuk turut memberi dukungan kepada 60 orang dewasa yang sedang menerima pendidikan keaksaraan dasar di beberapa tempat. Salah satu lokasi yang digunakan PKBM Kasimo adalah ruang belajar SD Adven Sausapor. “Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw memberi dukungan untuk menyelenggarakan pendidikan keaksaraan dasar dengan sejumlah paket dasar. Terkait hal itu, perlu adanya dukungan dari keluarga, masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan semua pihak agar upaya pemberantasan buta huruf di Tambrauw teratasi,”ajak Gewab.

“Sebanyak 60 peserta yang sudah terdaftar di PKBM Kasimo, juga mendapat dukungan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maka Gewab berharap para peserta yang mengikuti pendidikan keaksaraan dasar harus tekun belajar karena pemerintah telah menyiapkan para pendidik yang mahir dan trampil mendampingi para penderita aksara. “Kita belajar sepanjang masa, tidak kenal huruf maka rakyat Tambrauw tidak bisa berangkat ke mana-mana,”ujar Kepala Dinas Pendidikan.

Sekolah Buta Aksara di SD Adven Sausapor, Tambrauw

Ketua Tim Pelopor sekaligus Pendidik Buta Aksara, Yohana mengatakan, PKBM Kasimo berdiri sejak tahun 2013 lalu. Dalam perkembangannya, PKBM Kasimo telah mendampingi para buta aksara dan terus memberantas buta aksara. Tahun 2017, terdapat 60 peserta yang membutuhkan pendampingan serius. “Sebuah tantangan berat memberantas buta huruf di Tambrauw. Pemberantasan buta aksara membutuhkan kesabaran dan kepedulian sosial. Ada 60 peserta. Satu guru mendampingi 10 peserta atau 1:10 orang,” terang Yohana.

Lebih lanjut kata Yohana, mereka belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Akibatnya, para buta aksara ini tidak bisa berkomunikasi dengan dirinya dan orang lain. “Hambatan  inilah yang menjadi tantangan bagi kami enam orang guru untuk berjuang mengentaskan buta aksara di Tambrauw,” ungkapnya.

Yohana menambahkan jumlah waktu untuk pembelajaran 114 jam setahun. Usia peserta yang terdaftar 15-59 tahun. “Para peserta buta aksara ini sangat serius dan antusias. Waktu yang kami siapkan sangat terbatas namun mereka mau belajar. Sementara ini ada 4 kampung yang menjadi pusat perhatian PKBM Kasimo yaitu kampung Yokje, Emaus, Bondegwan dan Bonde. Mereka adalah masyarakat asli suku-suku di Tambrauw usia putus sekolah dan lanjut usia,”kata Ketua Tim Pelopor PKBM. (Laurent R/KPC)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini