Tobasa Darurat Kejahatan Seksual Terhadap Anak

0
95
Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak bersama Darwin Siagian Bupati Tobasa dan Wakapolres Tobasa Kompol Siagian memberikan keterangan atas kasus Kejahatan Seksual yang dilakukan ayah dan paman korban, Selasa 10 Juni 2018 di kantor Polres Tobasa

❏❏❏ Komisi Nasional Perlindungan Anak : ” Apa yang salah dalam Masyarakat Batak?”

KOBARPAPUA.COM, JAKARTA – Dugaan kejahatan seksual yang dialami tiga orang anak usia di bawah 7 tahun di salah satu desa  SS di Kecamatan Parmaksian Porsea dan satu kasus lagi kejahatan seksual yang terjadi dan dialami anak di Tanah Lapang Balige akhir-akhir minggu ini telah mengingatkan masyarakat Tobasa terhadap kasus kasus kejahatan seksual yang pernah terjadi dan menghebohkan masyatakat Bayak di Tobasa yang dilakukan ayah kandung korban bersama-sama Paman kadung korban  di Kecamatan Silaen.

Kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang tua kandungnya sendiri  dalam bentuk persetubuan sedarah (incest)  di Balige terhadap dua  putri kandung anak remajanya usia SMP, kemudian kita  diingatkan dengan peristiwa diluar akal sehat orang dewasa dimana dijumpai  7 orang anak-anak berusia dibawah 12 tahun di Laguboti melakukan kejahatan seksual bersama-sama terhadap anak usia 3 tahun dan berbagai peristiwa kejahatan seksual bentuk lain yang pernah juga terjadi sepanjang tahun 2018  di Balige yang sebarannya  sudah sampai pada tingkat desa-desa seperti yang terjadi di salah satu Desa, yaitu di desa Amborgang, dan di desa  Narumonda Porsea. Tidak henti-hentinya Peristiwa  Kejahatan seksual yang dialami anak-anak di TOBASA.

Atas meningkatnya kasus kasus kejahatan seksual  di Tobasa  menyisakan sebuah pertanyaan yang mendasar apa yang sesungguhnya salah dalam masyarakat Batak?; Apakah hanya sekedar karena merajalelanya tayangan dan  tontonan pornografi serta porno aksi yang mudah diakses masyarakat dari media sosial dan internet?

Ataukah karena dipicu oleh maraknya minuman keras oplosan adalah satu-satunya pemicu terjadinya kasus kejahatan seksual  yang dilakukan orang terdekat korban di Tobasa?; Ataukah telah terjadi degradasi moralitas di tengah-tengah kehidupan  masyarakat Batak. Atau telah terkikisnya keteladanan dalam keluarga Batak sehingga menghancurkan ketahanan keluarga.

Ataukah masyarakat BATAK saat ini  tidak lagi takut akan Tuhan; Ataukah terkikisnya kepercayaan masyarakat terhadap fungsi  budaya dan adat yang sesungguhnya menjadi komunitas yang saling menghormati dan menghargai (dalihan natolu),

Ataukah lemahnya kontrol sosial masyarakat dan tidak berfungsinya sistim kekerabatan dalam budaya masyarakat Batak sudah hancur dan tidak berfungsi lagi?

Pertanyaan-pertanyaan  mendasar inilah yang perlu dijawab oleh masyarakat Tobasa untuk dijadikan pemikiran untuk mencari formulasi memutus mata Rantai Kejahatan Seksual terhadap anak di Tobasa, demikian disampaikan Ketua umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada media di Jakarta  sebelum melakukan bedah kasus atas maraknya  kejahatan seksual dan kejahatan bentuk lain di Tobasa  Rabu 15/08 di kantornya di Jalan TB. Simatupang No.  33 Pasar Rebo Jakarta Timur.

“Setelah bedah kasus hari ini,  Selasa 21 Agustus 2018 saya bersama Tim Investigasi Cepat (TIC) di Tobasa akan segera berkunjung dan menemui korban dan keluarga korban di dua tempat ini dan sekaligus untuk mengupayakan bertemu dengan Bapak Bupati Tobasa,  Kapolres Tobasa, Kadis PPPA Tobasa, Kadis Sosial  dan diharapkan juga bisa berjumpa  dengan juga Ketua PKK Kabupaten Tobasa untuk duduk bersama mencari formulasi yang tepat dan strategis dalam kerangka memutus mata rantai kasus – kasus kejahatan seksual terhadap anak khususnya di Tobasa”, tambah Arist.

Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang diberikan mandat, tugas dan fungsi memberikan pembelaan dan perlindungan Anak di Indonesia terus berupaya dan berkomitmen membantu pemerintah Tobasa, aparatus penegak hukum, gereja dan institusi keagamaan lainnya yang ada di Tobasa serta masyarakat Tobasa untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan bukan sekedar mencari siapa yang salah. Pemerintahkah yang salah, masyakatkah  atau gerejakah yang pelayananan tidak kontekstual lagi,…itu tidak perlu.

Kesalahan itu  ada pada diri kita sebagai keluarga dan orang dewasa bukan kepada orang lain.

Salah satu upaya merespon maraknya kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak di wilayah Tobasa, pemerintah Tobasa bersama Komnas Perlindungan Anak, sesungguhnya 2 bulan yang lalu atas inisiasi Bupati Darwin Siagian yang telah memberikan perhatian yang sangat serius dan telah  mengumpulkan para kepala desa Camat, guru guru PAUD, tokoh adat, begitu juga para giat perlindungan anak,  tokoh-tokoh gereja lintas denominasi, untuk berdiskusi bersama dalam lokakarya yang dilakukan di Pendopo Kantor Bupati.

Banyak hal yang sudah disepakati,  banyak pula langkah-langkah strategis  yang harus ditindak lanjuti,  namun masih memerlukan formula siapa yang sesungguhnya harus melakukannya dan sejauhmana peran masyarakat.

Sudah saatnyalah para pemangku kepentingan seperti Gereja, pemerintah, pegiat perlindungan anak, media, tokoh adat serta “stakeholders” perlindungan anak bergerak bersama membangun komitmen  TOBASA BEBAS DARI KEKERASAN, demikian tambah Arist.

Jika langkah strategis ini tidak segera dilakukan, tidaklah berlebihan  jika TOBASA patut dinyatakan sebagai wilayah Darurat Kejahatan Seksual. Kondisi  dan predikat ini diharapkan jangan terjadi, namun nyata-nya kita tidak  mampu membela nasib anak-anak yang selalu dan selalu menjadi korban eksploitasi seksual dari orang dewasa lingkungan terdekatnya.

Alangkah tidak adilnya kita untuk melihat kasus-kadus kejahatan seksual yang menimpa anak-anak yang tidak berdaya dan menyembunyikannya bahkan membiarkan terus terjadinya tanpa bisa kita membela dirinya,  inilah sebuah tantangan hati nurani kebersamaan masyarakat Tobasa agar kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi di Tobasa bisa kita hentikan secara bersama-sama, demikian tambah Arist  Merdeka Sirait  di kantornya.

Dalam memperingati 73 Indonedia Merdeka, mari segera kita merdekakan anak kita, ANAK Indonesia dari belenggu dan mata rantai kekerasan dalam bentuk apapun. Merdeka!. (RLS/KP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.