Jangan Bosan Reformasi

0
217

“Rakyat bukan hanya sekedar hiasan demokrasi,  yang hanya digunakan pada saat tertentu untuk  membentuk dan mendukung suatu politik, dihilangkan ketika momen politik sudah berlalu”

Penulis : Fiqih Khoirun Nisa ( Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)

Kobarpapua.com – Kehidupan yang demokratis, kini mampu dinikmati tidak lepas dari keberhasial gerakan reformasi yang mampu menggulingkan kekuasaan otoriter rezim orde baru pada bualan mei 1998. Sembilan belas tahun sudah berlalu namun titik terang terkait nasib kasus aktivis yang dihilangkan tak kunjung jelas. Dalam peristiwa ini terjadi pembunuhan dan penghilangan aktivis di tengah suasana politik yang kian memanas saat itu rezim orde baru bertindak menekan.

Kondisi masyarakat yang masih terbelengu akibat tertekannya oleh orde baru, membuat banyak terlahir para aktivis, salah satunya termasuk Munir menjadi sosok yang sangat kritis. Orang yang sederhana dan memiliki keberanian yang luar biasa, seorang pejuang yang tanpa takut ia selalu berdiri di depan dalam membela hak-hak masyarakat kecil yang tertindas. Karena kebaraniannya akhirnya ia dibungkam dan dibunuh. Munir aktivis HAM yang di bunuh dengan cara di racuni di udara ketika ia hendak melanjutkan studi S2 di Belanda pada 7 september 2004.

Bagi sosok Munir jihad itu ialah melawan kezaliman terhadap buruh dan tani, ketika hak-hak seseorang direnggut oleh seseorang atau pun kelompok lain baik pemodal ataupun negara. Dengan begitu, bagaimana memaknai jihad dengan memulihkan hak-hak itu lewat penyadaran-penyadaran kepada masyarakat.

Rakyat bukan hanya sekedar hiasan demokrasi,  yang hanya digunakan pada saat tertentu untuk  mebentuk suatu politik dan dihilangkan ketika momen politik sudah berlalu. Tetapi bagaimana memposisikan rakyat berperan didalam politik yang keritis terhadap investigasi politik, peranan rakyat yang mampu mengontrol berbagai isu publik. Rakyat tidak hanya sekedar menonton dan pergerakannya tidak hanya di gerakan oleh kekuatan-kekuatan elit pemerintahan. Semakin banyak rakyat memproduksi debat-debat politik, maka semakin terbukalah ruang politik.

Bagi para pejabat pemerintah kehormatan anda tidak akan turun hanya karena dikeritik oleh masyarakat, dimana hanya diminta pertanggung jawaban atas amanah. Bukan untuk menjatuhkan kehormatan atau kewibawaan, tetapi masyarakat mampu menyampaikan pandangan-pandangan  atau kritik kepada pejabat pemerintahan. (Fiqih Khoirun Nisa/KP)

Fiqih Khoirun Nisa, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang / Insert Photo : Istimewa

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.