Aparat Berhasil Bubarkan Massa Dijalan Tambang Freeport

0
384

Kobarpapua.com, Timika – Aparat keamanan berhasil membubarkan paksa ribuan massa yang menduduki jalan tambang PT Freeport Indonesia di Mile Point 28, Timika, Papua, Sabtu (19/8/17) malam.

Massa dibubarkan paksa dengan rentetan tembakan gas air mata pada Pukul 20.15 WIT malam tadi. Ibu-ibu (istri karyawan) beberapa membawa serta anaknya, menangis ketakutan sambil berlari menghindari gas air mata.

Aparat kepolisian terus mengimbau agar seluruh massa aksi membubarkan diri dan pulang dengan tertib ke rumah masing-masing. Terutama kepada mereka yang membawa serta anak istri.

Pasca pembubaran, tampak puing-puing berbagai fasilitas di pos Check Point 28 berserahkan. Puluhan kendaraan roda dua dirusak dan dibakar di area tersebut, termasuk pos CP 28 hangus dilalap api.

Sekitar Pukul 20.30 WIT massa beralih ke Check Point 26 Gorong-gorong. Mereka memasuki terminal bus Goro-gorong dan melakukan pengrusakan dan pembakaran berbagai fasilitas disana.

Dari upaya pembubaran paksa tersebut, seorang karyawan tertembak peluru karet dan lainnya terluka. Umumnya mereka terkena serpihan tembakan gas air mata, dan terjatuh saat dipukul mundur oleh aparat.

Humas RSUD Mimika Lucky Mahakena mengonfirmasi  bahwa seorang karyawan bernama Sahbrin (34) mengalami luka tembak peluru karet pada bagian belakang. Korban telah dirawat disana pada Pukul 21.00 WIT.

“Ya, satu karyawan luka tembak peluru karet, luka di bagian belaķang. Korban beralamat di Serui Mekar . Saat ini korban masih dirawat di UGD RSUD,” kata Lucky.

Sebelumnya, massa telah membakar beberapa kendaraan termasuk dua unit motor, satu unit alat berat dan satu unit mobil Freeport jenis Toyota LWB di sekitar Cek Point 28.

Massa juga merusak puluhan motor yang terparkir di area itu, dan sebagian dibuang ke dalam kolam. Mereka mendirikan tenda dan menutup akses masuk ke jalan tambang Freeport.

Bersamaan dengan itu, massa juga memblokade jalan tambang di MP 28 dan membakar dua unit kendaraan trailer pengangkut kontainer dan air.

Aksi ini merupakan buntut dari kebijakan Freeport menerapkan program furlough (merumahkan) ribuan karyawan. Ini kemudian berujung aksi mogok kerja sejak 1 Mei 2017 lalu.

Aksi mogok kerja yang dianggap manajemen perusahaan tidak sah, lalu kemudian sekitar 8.100 karyawan dinyatakan mengundurkan diri secara sukarela.

Keputusan tersebut dinilai sepihak dan dianggap menyengsarakan ribuan pekerja. Masalah inipun berujung tanpa penyelesaian. (rum/SP-IWO RED)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.