Ajak Pemuda Suarakan Kepentingan Perlindungan Hutan dan Hak-Hak Adat

0
366

“Kemah Hutan Papua” #beradat #jagahutan

Kobarpapua.com, Sorong –  Dalam Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89, Bentang Nusantara (Bentara) Papua bersama 50 orang pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Papua juga awak media lokal dan nasional mengikuti program kemah hutan Papua dengan tajuk “Pemuda Menyatu dengan Alam #beradat #jagahutan” demi menyerukan pentingnya kelestarian hutan di Papua dan menjaga hak-hak masyarakat adat Papua.

Acara kemah hutan Papua ini akan diselenggarakan pada tanggal 03 – 13 November 2017. Kegiatan yang berlangsung selama 11 hari tersebut akan bertempat di Kampung Sbaga, Distrik Klasou, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Lepas dari itu, pemuda-pemudi yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai daerah yang meliputi Manokwari, Sorong, Jayapura, Raja Ampat, Kaimana, Fakfak, Tambrauw, Sorong Selatan, dan Merauke.

Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, terhitung pada tahun 2015 penduduk dengan usia produktif (15-49 tahun) di Papua Barat berjumlah 405.505 jiwa. Sementara itu, penduduk berusia produktif di Provinsi Papua berjumlah 1.415.395 jiwa. Dengan sumber daya manusia yang sebesar itu, maka semangat dan ide-ide segar yang mereka miliki pun dapat dipastikan besar pula.

Yanuarius Anouw, Program Manajer Bentara Papua mengatakan bahwa hutan adalah sumber kehidupan bagi masyarakat adat Papua. Kearifan lokal masyarakat adat Papua berusaha terus dijaga dengan baik. Meski anak-anak nantinya akan melanjutkan pendidikan ke kota, mereka tidak melupakan hutan sumber kehidupannya, tidak melupakan adat budayanya. Setiap pulang ke desa, mereka akan ikut berburu di hutan atau mengumpulkan bahan makanan,” kata Yanu.

Masyarakat adat Papua dengan kearifan lokal mereka seperti pemburu dan pengumpul yang membuat kegiatan ini sebagai sumber pendapatan utama mereka yaitu pertanian dan berburu. Menanamkan kecintaan Pemuda pada hutan adalah hal yang penting dilakukan. Sebab, adat-istiadat bisa punah jika tidak dilestarikan karena masyarakat adat Papua sangat bergantung keberlangsungan hidupnya pada hutan.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam perayaan Hari Sumpah Pemuda yang diadakan di istana negara bulan Oktober lalu mengajak anak muda untuk mengikuti pendidikan di luar ruangan untuk mempelajari hal-hal riil yang terjadi di lapangan.”Dimasukkan saja anak-anak ke hutan juga tidak apa-apa juga yang penting di luar ruangan,” kata Presiden terkait pendidikan nonrutinitas.

Kemah Hutan Papua ini sekolah adat kegiatan Pendidikan nonrutinitas yang kemudian dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan sebagai kekuatan positif untuk merawat alam. Lebih dari itu, memang sudah menjadi kewajiban bagi generasi muda untuk mengenal dan bertanggung jawab atas keberadaan hutan yang mana merupakan aset penting bagi kehidupan umat manusia secara umum.

Momen peringatan Hari Sumpah Pemuda 2017, lanjut Yanu, harus menjadi penyemangat kepada generasi pemuda sebagai agen perubahan. Adanya serangkaian kegiatan tersebut, diharapkan akan membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melakukan penyelamatan hutan yang masih tersisa di Tanah Papua. Dengan kata lain, acara ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan sekaligus membangun rasa kepemilikan para generasi muda terhadap hutan di Indonesia, khususnya di Papua.

Pada pembukaan Kemah Hutan Papua diadakan juga diskusi sarasehan dengan masyarakat dimana Bulan ini diadakan Konferensi Para Pihak ke-23 Konvensi-Kerangka Perubahan Iklim (UNFCCC COP-23) yang akan diadakan 6 – 17 November 2017 di Bonn Jerman. Dalam diskusi para pemuda adat membicarakan bahwa jika pohon-pohon di hutan Papua dipotong, itu berarti ancaman bagi penghidupan dan budaya banyak masyarakat adat Papua. Deforestasi berarti penghancuran sumber daya obat dan makanan mereka, mengusir masyarakat adat dari hutan dan melakukan kejahatan keji terhadap alam. Deforestasi akan menyebabkan penderitaan, bencana dan kekacauan bagi orang-orang Papua yang tinggal di sekitar dan dalam hutan yang merupakan bagian dari warisan.

Luas hutan Papua (Papua dan Papua Barat) mencapai 29,4 Juta ha atau 35% dari total luas hutan Indonesia, menjadikan hutan Papua sebagai hutan terluas di Asia Tenggara sekaligus berperan sangat penting dalam pencapaian target penurunan emisi rumah kaca Indonesia sebesar 26 persen di tahun 2020. Hutan Papua yang berada di 2 Provinsi yakni Papua dan Papua Barat memiliki potensi emisi gas rumah kaca masing-masing 17,4 gigaton dan 6 gigaton karbon dioksida.  Peran pemerintah dalam memproteksi luasan hutan Papua agar potensi emisi tersebut tidak lepas ke atmosfer menjadi sangat penting.

Bagi masyarakat Papua Hutan tidak hanya sekedar karbon namun Hutan adalah tempat tinggal, sumber pangan dan sandang karenanya penting kami mengadakan kemah hutan Papua untuk kemudian membangun rasa kepercayaan diri serta rasa kepemilikan pada generasi muda Papua dan juga kepada Generasi muda seluruh Indonesia karenanya Gerakan untuk #JagaHutan Papua ini disuarakan bukan hanya untuk Generasi Muda Papua namun seluruh generasi muda Indonesia karena tugas dan tanggung jawab menjaga hutan Papua mengambil peran dalam menjaga dan melestarikan adalah milik seluruh generasi muda Indonesia.

Terkait dengan bentuk kegiatan, “Kemah Hutan Papua” #beradat #jagahutan ini memiliki sejumlah agenda yang meliputi pendirian pondok, diskusi, pemutaran film, pelatihan  pemetaan potensi hutan dan wilayah adat, survei keaneragaman hayati, pendokumentasian dan pemantauan kondisi hutan dengan menggunakan drone, pagelaran budaya, dan beberapa perlombaan, seperti membuat foto dan video dokumenter tentang adat dan hutan Klaso. Adapun beberapa tema diskusi dalam acara ini, di antaranya adalah peran masyarakat dalam perlindungan hutan, strategi kampanye hutan Papua, dan budaya dan bahasa yang semakin memudar di Tanah Papua. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar Anda disini
Isikan nama Anda disini